Ada hari di mana kita belajar sesuatu yang besar.
Ada juga hari di mana kita belajar bahwa kita sendiri yang bikin masalah.
Hari ini termasuk kategori kedua.
Pagi tadi aku cuma punya satu tujuan sederhana:
Bikin AI Psychology punya rumah sendiri.
Selama ini proyeknya masih numpang di:
sapcode.my.id/psikolog
Aku berpikir:
"Yaudah bikin subdomain aja."
Simple.
Tinggal bikin:
psikolog.sapcode.my.id
Pasang SSL, atur Nginx sedikit, lalu lanjut ngopi.
Di kepalaku, pekerjaan ini paling lama 15 menit.
Aku salah.
Sangat salah.
Awalnya semua berjalan mulus.
DNS beres.
Subdomain muncul.
SSL berhasil.
Certbot tidak protes.
Nginx juga terlihat baik-baik saja.
Aku bahkan sempat merasa jago.
Terlalu cepat merasa jago ternyata berbahaya.
Masalah mulai muncul saat AI-nya dicoba.
Tampilan website muncul.
Kotak chat muncul.
Semuanya terlihat normal.
Tapi begitu aku mengetik pesan...
Error.
Lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Mulailah ritual kuno para penghuni VPS:
Menyalahkan semua hal kecuali diri sendiri.
🤣
Aku mulai curiga ke:
PHP
Nginx
SSL
Certbot
DNS
Permission
VPS
Linux
Kalau bisa menyalahkan cuaca mungkin sudah kulakukan.
Lalu muncul masalah baru.
Saat membuka:
ai-proxy.php
bukannya dijalankan.
Malah ter-download.
Aku langsung menatap layar beberapa detik.
"Wah... ini serius."
Di titik ini aku mulai membayangkan harus bongkar konfigurasi server dari nol.
Beberapa jam berikutnya berubah menjadi sesi detektif.
Aku membuka log.
Mengecek konfigurasi.
Mengutak-atik Nginx.
Mengecek PHP.
Mengetik perintah yang bahkan mulai lupa tujuannya apa.
Semakin lama aku mencari, semakin yakin masalahnya besar.
Karena kalau masalahnya sederhana, pasti sudah ketemu dari tadi.
Kan?
Kan?
Ternyata tidak.
Yang membuatku makin bingung adalah fakta bahwa:
sapcode.my.id/psikolog
berjalan sempurna.
Tapi:
psikolog.sapcode.my.id
tidak.
Padahal isi foldernya sama.
File-nya sama.
Kodenya sama.
Logikanya harusnya sama.
Aku mulai merasa sedang berdebat dengan makhluk gaib yang tinggal di dalam server.
Setelah berjam-jam mengelilingi masalah yang sama...
Akhirnya ketemu.
Dan aku berharap penyebabnya sesuatu yang keren.
Misalnya bug Nginx langka.
Atau konflik SSL tingkat tinggi.
Atau error Linux yang hanya terjadi sekali dalam seratus tahun.
Sayangnya tidak.
Penyebabnya adalah...
Aku meng-upload file yang salah.
...
Iya.
Cuma itu.
🤣🤣🤣
Berjam-jam.
Puluhan command.
Berbagai teori.
Segudang asumsi.
Dan penyebabnya hanyalah sebuah file yang salah berada di tempat yang salah.
Servernya tidak rusak.
SSL tidak rusak.
PHP tidak rusak.
Nginx tidak rusak.
Yang rusak hanya kepercayaan diriku terhadap kemampuan debugging sendiri.
Tapi ada satu hal menarik yang kupelajari hari ini.
Saat menghadapi masalah, otak kita sering mengira jawabannya pasti rumit.
Padahal kenyataannya sering kebalikannya.
Masalah besar terlihat besar karena kita belum melihat detail kecil yang menyebabkannya.
Malamnya, setelah semuanya berhasil jalan, aku duduk sebentar sambil melihat:
psikolog.sapcode.my.id
akhirnya online.
Rasanya lucu.
Karena hasil akhirnya cuma sebuah website yang bisa diakses.
Tapi di balik website itu ada beberapa jam frustrasi, kopi, kebingungan, dan dialog batin yang tidak pantas dipublikasikan.
🤣
Dan mungkin itulah alasan kenapa aku suka membangun sesuatu.
Karena setiap proyek selalu terlihat sederhana dari luar.
Tapi di balik layar, selalu ada cerita absurd yang tidak pernah dilihat orang.
Hari ini ceritanya adalah:
Aku menghabiskan berjam-jam membedah VPS, hanya untuk menemukan bahwa yang salah adalah file yang ku-upload sendiri.
Dan entah kenapa, itu terdengar sangat seperti diriku. 🚀
Komentar
Posting Komentar