Kadang aku melihat website SAPCode yang sedang kubangun hari ini dan berpikir:
"Anjir, kok bisa sampai di sini ya?"
Karena kalau melihat ke belakang, jalur hidupku sama sekali tidak lurus.
Bahkan cenderung absurd.
Aku pernah menjadi penjaga WC.
Pernah motong kolang-kaling di pasar jam 3 pagi saat ikut merantau bersama kakak iparku.
Pernah jadi kuli bangunan membantu membangun rumah tanpa dibayar.
Pernah kerja gudang minimarket.
Pernah menjaga stand sosis dengan sistem komisi yang kalau diingat sekarang rasanya seperti lelucon.
Dan yang paling lucu, dulu aku menganggap semua itu normal.
Baru sekarang terasa aneh.
Shift Neraka Tahun 2016
Salah satu pekerjaan paling tidak masuk akal yang pernah kulakukan adalah saat bekerja di rumah makan.
Awalnya aku berangkat pagi dan pulang malam.
Rumah ke tempat kerja sekitar 15 kilometer.
Naik sepeda.
Setiap hari.
Karena tidak nyaman pulang terlalu malam, akhirnya aku mengubah jadwal.
Jam 6 sore sampai jam 1 malam bekerja sebagai waiter.
Lalu setelah itu langsung pindah menjadi penjaga WC sampai jam 7 pagi.
Kalau dihitung:
Rumah makan: 7 jam
Penjaga WC: 6 jam
Total 13 jam.
Belum termasuk perjalanan pulang-pergi.
Dan gajinya?
28 ribu rupiah.
Saat menulis ini tahun 2026, aku bahkan tidak tahu harus tertawa atau menangis.
Penjual Sosis dengan Komisi 300 Rupiah
Ini lebih absurd lagi.
Aku pernah menjaga stand sosis.
Sistem komisinya:
300 rupiah per tusuk.
Masalahnya?
Kadang sehari cuma laku dua tusuk.
Dua.
Tusuk.
Artinya aku bisa bekerja berjam-jam dan hanya mendapatkan 600 rupiah.
Kalau ada penghargaan untuk pekerjaan dengan rasio waktu dan hasil paling tidak masuk akal, mungkin ini kandidat kuatnya.
Yang lebih lucu, ketika jualan sepi, bosku punya teori sendiri.
Bukan soal lokasi.
Bukan soal pemasaran.
Bukan soal produk.
Tapi katanya mungkin aku kurang ibadah.
Atau ada orang yang tidak suka kepadaku.
Saat itu aku cuma diam.
Tapi sekarang kalau mengingatnya, aku ingin bertanya:
"Bu, apa hubungannya sosis tidak laku dengan ayat kursi?"
Live Streamer 7 Ribu per Jam
Setelah menutup usaha fried chicken, aku sempat mencoba melamar kerja sebagai host live.
Niat awalnya sederhana.
Belajar 2 atau 3 bulan.
Mengamati cara kerja live commerce.
Lalu mungkin suatu hari bisa dipakai untuk bisnisku sendiri.
Kenyataannya?
Aku cuma bertahan satu minggu.
Satu minggu.
Suara serak.
Tenggorokan nyaris hilang.
Ngomong berjam-jam tanpa henti.
Bayarannya sekitar 7 ribu rupiah per jam.
Aku keluar bukan karena capek.
Aku memang bisa bekerja keras.
Tapi aku merasa tidak cocok dengan sistem dan lingkungan kerjanya.
Untungnya masih dapat pesangon sekitar 400 ribu rupiah.
Lumayan untuk cerita absurd berikutnya.
Yang Aneh, Aku Kuat Menjalani Semua Itu
Kalau dipikir-pikir sekarang, bagian yang paling aneh bukan pekerjaannya.
Tapi fakta bahwa aku menjalaninya.
Saat itu aku tidak merasa sedang menjadi karakter utama dalam kisah perjuangan.
Aku hanya bangun.
Berangkat kerja.
Pulang.
Tidur.
Lalu mengulanginya lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Mungkin karena saat berada di dalam badai, kita tidak sadar bahwa sedang berada di dalam badai.
Baru setelah bertahun-tahun berlalu, kita melihat ke belakang dan berkata:
"Anjir, kok bisa ya?"
Mungkin Itu Sebabnya Aku Sangat Menghargai Proses Membangun
Hari ini aku menghabiskan waktu belajar VPS.
Mengatur SSL.
Menghubungkan domain.
Membangun SAPCode.
Dan anehnya aku menikmati semua itu.
Capek tetap ada.
Pusing tetap ada.
Tapi ada satu perbedaan besar.
Setiap jam yang kuhabiskan hari ini terasa seperti membangun sesuatu.
Sedangkan dulu banyak jam hidupku terasa seperti hanya ditukar dengan waktu.
Mungkin itu sebabnya aku merasa lebih hidup sekarang.
Bukan karena uangnya lebih banyak.
Bukan karena hidupku sudah sukses.
Tapi karena akhirnya aku kembali melakukan sesuatu yang sejak dulu kusukai.
Membangun.
Mencoba.
Mengutak-atik.
Menambahkan satu fitur lagi sebelum tidur.
Dan setelah mengingat semua pekerjaan absurd yang pernah kulakukan, satu hal yang kusadari adalah:
Mungkin hidupku memang tidak pernah lurus.
Tapi justru karena itulah ceritanya menarik untuk diceritakan.
Komentar
Posting Komentar